![]() |
Foto: Diniyah Limo Jurai |
Waktu itu,
ketika kami duduk di kelas 1 B (kelas 1 Mts), beliau mengampu mata pelajaran fikih
dengan memperkenalkan kitab “Al-Ghāyah wa Al-Taqrīb”. Kitab tipis dengan “ilmu
salangik” di dalamnya ini beliau terangkan kepada kami kata per kata. Tak ada
satu pun mufradat yang terlewatkan. Beliau menjelaskan dengan sangat jelas, dengan
bahasa Indonesia yang (terkadang) diselingi dengan bahasa Minang dengan dialek ‘Sungai
Pua/Cimbuak’.
Angkatan
kami, yang masuk pada tahun ajaran 2009/2010 merupakan angkatan yang tidak
cukup beruntung diajar oleh beliau. Meskipun beliau sudah masuk ke kelas kami
di tahun pertama menginjakkan kaki di Diniyah Limo Jurai, ternyata satu tahun
itu saja kami diajarkan oleh beliau di bangku formal. Setelah 1 tahun ajaran
(2009/2010) itu berlalu, beliau pun berlalu meninggalkan Diniyah Limo Jurai dengan
mencari kesibukan yang lain.
Saya tidak
mengetahui pasti awal mula beliau menjabat sebagai Kepala Madrasah (dibaca:
mudir, sebelum peralihan ke Pondok Pesantren). Yang jelas, kami cukup beruntung
didoktrin langsung oleh ‘mudir’ pada awal masuk ke Diniyah Limo Jurai di tahun tersebut.
Pasca
beliau tidak menyibukkan diri lagi di Diniyah Limo Jurai, saya seringkali
berpapasan di beberapa tempat. Bahkan beberapa kali, saya sempat nebeng dengan
beliau dari arah (Gurun) Aua menuju Gunung Marapi, ketika masih sekolah. Beliau
selalu ingat dengan saya, apalagi saya memang berada di posisi ‘penyambung silaturahmi’
antara beliau dan orang tua saya sendiri, yang notabene sudah berkawan sejak di
AKABAH.
Di sisi lain, angkatan
kami merasakan 3 sosok Mudir sepanjang tahun 2009 hingga 2016: Haji Syaukani Sani (kelas 1 MTs), Haji Masykur
Misbah (kelas 2 MTs-3 MA/semester ganjil) dan Haji Metriadi (kelas 3 MA/semester
genap). Kami cukup beruntung diajar oleh tiga sosok mudir tersebut. Hanya pada
saat kelas 2 MTs saja kami tidak diajar
oleh salah satu dari tiga sosok tersebut.
Ketika kami menyelesaikan pendidikan di Diniyah Limo Jurai (2016), Ust. Haji Syaukani Sani kembali mengajar di Diniyah Limo Jurai. Beliau sempat menghadiri acara perpisahan kami (haflaḥ al-takharruj) serta melepas kami untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan nasehat-nasehat yang cukup berguna untuk kami ke depannya.
Beberapa kawan saya yang kembali mengabdi pada tahun 2021/2022, tentu bahagia sekali dapat belajar lagi dengan beliau. Alhamdulillah, saya juga sempat belajar bersama para asatiz lainnya dibimbing oleh beliau beberapa kali, pasca menyelesaikan S-1 di Jogja.
Allahummaghfirlahu,
war-ḥamhu, wa-‘āfihī,
wa’fu-‘anhu.
Depok, 13
Mei 2024
Komentar
Posting Komentar